Author: Redaksi

Ini cerita nyata tentang Mas Agung. Petani padi di Kabupaten Banyuwangi. Dia bertani sejak 20 tahun yang lalu. Setiap hektar bisa panen 6 ton. Pupuknya sekitar 2 kwintal. Semuanya pupuk kimia alias sinetetis. Urea dan Phonska. Nah, 20 tahun kemudian, hasil panen tetap sama, 6 ton. Yang beda jumlah pupuknya. Bukan 2 kwintal lagi, Tapi, 4 kwintal atau 2 kali lipat lebih banyak. Biaya pemupukan, ya pasti lebih banyak. Dia bingung. Kalau begini terus, pupuk makin banyak, tapi panen tidak berubah. Mas Agung masih beruntung. Tetangganya malah pakai 6 kwintal pupuk kimia untuk satu  hektar sawah. Hasil penen tak lebih…

Read More

JAKARTA – Indonesia untuk pertama kali mengekspor beras ke Arab Saudi. Sebanyak 2.280 ton besar Nusantara dikirim sebagai ekspor perdana untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji asal Indonesia tahun 2026. Ekspor beras untuk kebutuhan jamaah haji ini menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem logistik haji berbasis produk pangan dalam negeri. Ekspor beras yang dilakukan oleh Bulog sebagai pelaksana teknis ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Haji dan Umrah sebagai fasilitator ekspor beras ke tanah Arab. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah, Jaenal Effendi mengatakan inisiatif mengekspor besar Nusantara ini sebagai pecah telur setelah…

Read More

Ini bukan hanya pengalaman kamu saja. Ada banyak orang mulai petani, penggemar tanaman, sampai pekebun yang merasa sudah memberikan segala macam pupuk, namun tanaman tidak tumbuh maksimal. Pupuk yang dimasukan tidak berdampak apa-apa. Tanaman yang begitu-begitu saja. Padahal tanah sudah dicangkul dan digemburkan. Ternyata, ada satu yang kamu lupakan, yakni pH tanah. Senbelum mengolah lahan kamu nggak peduli dengan pH tanah. Yang penting, tanah sudah dicangkul, dibajak, dan diberi pupuk selesai urusan. Ternyata tidak. Menanam tanaman tanpa tahu kadar pH tanah itu seperti kamu membangun rumah, tapi nggak peduli dengan pondasi rumah. Padahal pH tanah itu kunci utama bercocok tanam.…

Read More

SEMARANG – Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang, yakni Pasar Johar, Pasar Kepanjen, dan Pasar Kanjengan, Jumat (27/2/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga pangan selama bulan suci Ramadan serta menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Sidak tersebut didampingi Direktur Pengadaan Perum BULOG Prihasto Setyanto, Pimwil Jawa Tengah Sri Muniati, serta bersinergi bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng dan Kota Semarang, serta Satgas Pangan. Baca Juga: Bulog Dapat Margin Fee Penugasan 7% Berdasarkan hasil sidak, harga…

Read More

JAKARTA – Sumber daging ruminansia besar, baik daging sapi atau kerbau, untuk kebutuhan konsumsi warga Indonesia selama ini dipenuhi dari dua pintu. Pintu pertama dari produksi dalam negeri. Pintu kedua dari impor. Impor pun wujudnya dua macam. Ada yang berbentuk sapi bakalan, yang setelah digemukkan 2,5 hingga 3 bulan setelah tindakan karantina, bisa dipotong. Ada juga impor yang berwujud daging beku. Impor daging beku juga ada dua: daging sapi dan daging kerbau. Daging beku selama ini dipasok dari Australia, Brasil, Amerika Serikat, Selandia Baru, Spanyol, dan Jepang. Sedangkan impor daging kerbau didatangkan dari India. Di luar itu, ada impor sapi…

Read More

JAKARTA – Salah satu tantangan besar petani di musim hujan adalah keong mas. Hama ini tidak bisa dianggap sepele kalau tidak ingin gagal panen. Dalam berbagai kajian budidaya padi, keong mas merusak tanaman hingga 50–95 persen pada fase awal pertumbuhan, terutama saat padi berumur di bawah 21 hari. Bahkan pada kondisi serangan berat, bibit padi yang baru ditanam bisa habis dalam waktu kurang dari dua hari. Genangan air di musim hujan menjadi lingkungan ideal bagi keong mas berkembang biak. Jika tidak dikendalikan sejak awal, populasi keong mas dapat meningkat cepat dan menyapu bersih tanaman muda dalam satu petakan. Antisipasi sejak…

Read More

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran Rp 336 miliar untuk mempercepat rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Anggaran ini untuk memulihkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang agar dapat segera kembali berproduksi dan menjaga pasokan pangan daerah. Program ini merupakan tindak lanjut groundbreaking rehabilitasi serentak pada 15 Januari 2026. Percepatan rehabilitasi menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Baca Juga: Sawah, Warisan, dan Ketakutan: Memahami Petani Lewat Ekonomi Perilaku Langkah ini tetap dijalankan meskipun berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan Januari hingga Maret 2026 masih…

Read More

MEDAN – Pengamat Ekonomi Pertanian Diana Chalil menegaskan, budidaya tanaman kelapa sawit pada lahan yang tepat akan menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dibandingkan komoditas lainnya, perkebunan sawit memberikan multiplier effect positif yang lebih besar baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan. “Manfaat lingkungan tidak (selalu) lagi trade-off dengan manfaat ekonomi. Kita belajar pasca bencana tsunami di Aceh tahun 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Perkebunan sawit rakyat banyak dari konversi komoditi lain,” kata Diana Chalil, Selasa (10/2/2026). Diana yang juga peneliti pada Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) mengatakan, baik secara…

Read More

MEDAN – Menanam tanaman yang tidak sesuai dengan karakter dan kebutuhan tanah berpotensi memicu bencana. Hal ini disampaikan oleh Prof Dr Ir Abdul Rauf, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), dalam diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan pada Selasa (10/2/2026). Guru besar yang menjadi saksi ahli dalam terjadinya bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir tahun 2025 ini punya pandangan menarik berdasarkan temuan di lapangan. Bencana bisa terjadi akibat tata kelola lahan yang tidak memperhatikan aspek ekofisiologi tanaman. Risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim bisa diminimalisir jika…

Read More

MEDAN – Perubahan iklim menjadi pemicu meningkatnya frekuensi bencana alam dalam beberapa tahun terkahir. Termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung tahun 2025 di Pulau Sumatra. “Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” kata Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Penegasan ini disampaikan Dr Ardhasena saat menjadi pembicara pada Diskusi Ilmiah bertajuk “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” di Kampus USU (Universitas Sumatra Utara) Medan,…

Read More