JAKARTA – Salah satu tantangan besar petani di musim hujan adalah keong mas. Hama ini tidak bisa dianggap sepele kalau tidak ingin gagal panen. Dalam berbagai kajian budidaya padi, keong mas merusak tanaman hingga 50–95 persen pada fase awal pertumbuhan, terutama saat padi berumur di bawah 21 hari. Bahkan pada kondisi serangan berat, bibit padi yang baru ditanam bisa habis dalam waktu kurang dari dua hari.
Genangan air di musim hujan menjadi lingkungan ideal bagi keong mas berkembang biak. Jika tidak dikendalikan sejak awal, populasi keong mas dapat meningkat cepat dan menyapu bersih tanaman muda dalam satu petakan. Antisipasi sejak dini harus disiapkan agar tanaman terhindar dari keong mas.
Baca Juga: Asap Cair, Cara Hemat dan Alami Usir Hama Tanaman
Menurut Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pengelolaan keong mas harus dilakukan pada awal masa tanam. Pada sistem pindah tanam, periode rawan pada 10 hari pertama. Sementara pada sistem tanam benih langsung atau tabela, risiko serangan dapat terjadi hingga 21 hari setelah tanam.
Serangan keong mas umumnya ditandai dengan bibit padi yang terpotong di bagian pangkal batang, tanaman hilang tidak beraturan, serta pertumbuhan yang tidak seragam. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan populasi tanaman per hektare, yang pada akhirnya menurunkan potensi hasil panen secara signifikan.
BRMP merekomendasikan pemasangan pagar plastik di sekeliling sawah untuk membatasi pergerakan keong mas dari luar lahan, terutama saat air hujan meluap dan membawa hama masuk ke area pertanaman. Selain itu, saluran irigasi perlu dilengkapi dengan saringan agar aliran air tidak menjadi media penyebaran antarlahan.
Di sisi lain, penggunaan bibit dengan umur tanam yang tepat turut berperan penting. Bibit yang terlalu muda lebih rentan terhadap serangan keong mas. Tanaman yang sedikit lebih kuat memiliki peluang bertahan lebih besar pada fase awal pertumbuhan.
BRMP juga menganjurkan pembuatan parit di sekeliling sawah sebagai tempat berkumpulnya keong mas sehingga hama tidak menyebar ke seluruh petakan. Upaya lainnya adalah menancapkan bambu atau ajir di sawah sebagai tempat keong mas meletakkan telur. Telur-telur yang menempel dapat dikumpulkan dan dimusnahkan secara rutin, sehingga siklus hidup hama dapat diputus sebelum menetas.
Sebagai pengendali hayati, pelepasan bebek juga dapat dimanfaatkan. Bebek dilepas ke sawah saat tanaman padi berumur sekitar 35 hari, ketika tanaman sudah cukup kuat dan keong mas masih menjadi sumber pakan alami.
Pengendalian keong mas secara terpadu menjadi kunci untuk menekan kerugian. Dengan kombinasi langkah pencegahan dan pengendalian sejak awal musim tanam, risiko kehilangan tanaman dapat diminimalkan. Pesannya tegas: jangan tunggu padi habis, karena sekali terlambat, keong mas bisa mengubah hamparan hijau menjadi sawah kosong dalam sekejap. (disarikan dari sinartani)

