JAKARTA – Tujuh butir telur itu dibagikan kepada sejumlah siswa sekolah dasar setiap hari Jumat untuk dibawa pulang. Mereka diminta untuk mengkonsumsi satu butir setiap hari. Telurnya boleh digoreng mata sapi, diolah menjadi telur bacem atau balado, atau cukup direbus begitu saja. Setiap siswa bebas menentukan pilihan olahan. Yang penting telurnya dimakan setiap hari selama enam bulan. Dengan cara ini mereka tidak bosan karena telurnya menjadi aneka rasa, rupa, serta warna yang menggugah selera.
Satu telur satu hari (One Day One Egg) adalah bagian dari JAPFA for Kids untuk siswa SD yang terindikasi mengalami gizi kurang atau gizi buruk. Melalui program CSR ini, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk berkomitmen memenuhi gizi anak-anak melalui edukasi tentang pola hidup sehat dan gizi seimbang melalui penyediaan protein dari telur. Program ini juga melibatkan orang tua untuk melengkapi kebutuhan karbohidrat, sayur, buah, dan nutrisi lainnya melalui bekal yang dibawa anak ke sekolah.
“Kami percaya protein itu penting. Tetapi kebutuhan gizi tidak hanya protein,” kata Social Investment Supervisor JAPFA, ST Khumaidah dalam kegiatan JAPFA for Kids di Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (30/7/2026). Program JAPFA for Kids tahun 2026 ini menjangkau 15 sekolah, 2.051 siswa, dan 165 guru di Lampung Selatan. Sebelumnya, pada Mei 2026, JAPFA for Kids diadakan di Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur yang melibatkan 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Program JAPFA for Kids merupakan CSR unggulan PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk yang dimulai sejak 2008 di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. Program pertama ini melibatkan enam sekolah dan 1.632 siswa. Berikutnya pada 2010 berlangsung di Lampung Selatan, kemudian Tanggamus dan Pringsewi pada 2012. Pada 2013 program ini diadakan di Pesawaran, lalu di Lampung Timur pada 2015, Lampung Tengah pada 2016, dan kembali hadir di Lampung Selatan pada 2019 dan 2026.
Menurut Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, program CSR ini berlangsung di berbagai wilayah di Indonesia. Lampung menjadi salah satu wilayah pertama JAPFA for Kids dan tetap menjadi prioritas pengembangan program. Sampai 2026, program ini berjalan selama 18 tahun. “Secara nasional hingga 2026, JAPFA for Kids sudah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi,” katanya.
JAPFA memilih program ini sebagai CSR unggulan karena penanganan stunting, kurang gizi dan gizi buruk pada anak usia sekolah berperan besar terhadap masa depan bangsa. Selain itu, program pemenuhan gizi ini sejalan dengan bisnis inti perusahaan di bidang agribisnis dan peternakan. JAPFA for Kids juga berperan penting dalam perbaikan gizi anak usia SD karena dijalankan dengan pendekatan terintegrasi.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, terdapat sekitar 11% anak usia 5-12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Temuan ini mirip dengan hasil temuan JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids tahun 2024 di mana sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi malagizi.

Pendekatan terintegrasi yang dilakukan JAPFA terbukti meningkatkan status gizi peserta program ini. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya gizi kurang dan gizi buruk berhasil mencapai status gizi baik. “Sementara pada 2025 sebanyak 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen mengalami perbaikan status gizi,” kata Retno Artsanti. Pendekatan yang dijalankan dalam program JAPFA for Kids berdampak positif terhadap gizi peserta.
Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah pendekatan yang terintegrasi. Sebelum anak-anak menerima telur, JAPFA bersama Puskesmas mengukur status gizi seluruh siswa sebagai data awal. Dari sinilah terungkap kondisi gizi siswa. Mereka yang mengalami gizi buruk dan kurang gizi menerima bantuan telur setiap pekan. Setelah data dinyatakan valid, orang tua siswa diundang ke sekolah untuk mendapatkan penjelasan mengenai program yang akan dijalankan.
Selama enam bulan kondisi siswa dipantau. Guru mencatat telur yang dikonsumsi siswa. Begitu juga berat dan tinggi badan siswa yang dipantau berkala. “Ketika bantuan diberikan, kami ingin memastikan benar-benar dikonsumsi dan berdampak,” kata ST Khumaidah. Pada saat bersama, orang tua dapat melihat langsung bentuk intervensi yang diberikan kepada anak mereka. Keterlibatan orang tua sangat penting karena kebiasaan dan perilaku yang dibangun di sekolah diharapkan dapat dijalankan siswa selama di rumah.
Perubahan perilaku sangat penting karena tidak semua siswa yang mengalami gizi buruk dan kurang gizi karena faktor ekonomi. Ada siswa dengan status kurang gizi karena lebih banyak mengkonsumsi jajanan di luar sekolah sehingga bekal dari rumah tidak dimakan. Tetapi, ada juga kasus di mana anak kurang gizi karena memang susah makan. “Intervensi dengan perubahan cara pandang dan perilaku akan membantu kondisi khusus seperti ini,” katanya.
Sementara itu, Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya menegaskan JAPFA for Kids adalah komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung tumbuh kembang anak Indonesia. “Membangun masa depan bangsa harus dimulai dengan memastikan anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik dan hidup dalam lingkungan sehat,” katanya. Oleh karena itu, JAPFA tidak pernah berhenti berkontribusi memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa. (AFS)

