JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan Kapal Motor (KM) Camara Nusantara I untuk mengangkut 200 sapi perah bunting yang disertai dengan kesiapan transportasi, kesehatan, pakan, dan kesejahteraan ternak, guna mempercepat swasembada susu nasional.
“Rencana pengiriman 200 ekor sapi perah bunting berasal dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Jawa Tengah,” Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan Tri Melasari dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Untuk memastikan kelancaran pengiriman ternak, Kementerian Pertanian meninjau kesiapan KM Camara Nusantara I yang dikelola PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di Semarang, sebagai bagian dari persiapan pengadaan dan rencana pengiriman 200 ekor sapi perah bunting. Kegiatan ini melibatkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Karantina Indonesia, PT Pelni, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Baca Juga: Kementan dan UGM Kolaborasi Tinggkatkan Produksi Susu
Kementan memastikan pengangkutan sapi perah bunting dilakukan dengan persiapan yang matang. Selain kapasitas kapal, pemerintah memperhatikan ketersediaan pakan dan air minum, ventilasi, alas ternak, tenaga pemelihara, hingga pendampingan dokter hewan selama perjalanan.
Tri mengatakan kesiapan sarana transportasi merupakan bagian penting dalam mendukung pengembangan populasi sapi perah nasional. Keberhasilan pengiriman tidak hanya diukur dari sapi yang tiba di lokasi tujuan, tetapi juga dari kondisi ternak selama perjalanan.
Kementan memastikan seluruh kebutuhan ternak selama perjalanan terpenuhi, mulai dari pakan, air minum, ventilasi, alas yang aman, hingga penanganan ternak selama berada di kapal. “Semua aspek harus disiapkan dengan baik agar sapi tetap nyaman dan kondisinya terjaga sampai tujuan,” ujar Tri.
Menurutnya, persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan perjalanan ternak memenuhi prinsip kesehatan dan kesejahteraan hewan. Kebutuhan logistik juga akan dihitung berdasarkan lama perjalanan, termasuk penyediaan cadangan untuk mengantisipasi perubahan kondisi selama pelayaran.
Sementara itu, Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo mengatakan kesiapan teknis kapal harus diikuti dengan pengaturan pemeliharaan ternak selama perjalanan. Pengelolaan kotoran, ketersediaan petugas pemelihara ternak atau kleder, serta dokter hewan menjadi bagian penting dalam proses pengangkutan.
Dalam tahap persiapan, seluruh pihak akan berkoordinasi untuk menetapkan trayek dan pelabuhan, menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan, membagi tanggung jawab masing-masing pihak, serta melakukan simulasi proses muat dan bongkar ternak. “Rute Baturraden–Semarang–Bajoe–Bone menjadi salah satu opsi yang dikaji untuk rencana pengiriman,” beber Dani.
Perjalanan normal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam hari. Namun, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, dan operasional akan disiapkan untuk sedikitnya delapan hari sebagai langkah antisipasi. Pengadaan dan rencana pengiriman 200 sapi perah bunting tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat penambahan populasi sapi perah dan meningkatkan produksi susu dalam negeri. “Penambahan populasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun produksi susu nasional secara berkelanjutan,” ucapnya.
Bagi Kementan, pengembangan sapi perah tidak berhenti pada penyediaan ternak. Seluruh mata rantai pendukung, mulai dari bibit, pakan, kesehatan hewan, transportasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan di lokasi penerima, perlu dipastikan berjalan secara terintegrasi agar investasi populasi ternak memberikan hasil optimal.
Karena itu, Kementan bersama seluruh pihak terkait terus mematangkan aspek teknis sebelum pengiriman dilakukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari kerja pemerintah untuk memastikan penambahan populasi sapi perah berjalan aman sekaligus memberikan dampak terhadap peningkatan produksi susu nasional. (FIY)

