JAKARTA – Ini mungkin jarang terdengar: Hari Lahan Basah Sedunia. Diperingati setiap tahun sejak 1971 setiap tanggal 2 Ferbuari. Tahun ini, Hari Lahan Basah Sedunia mengangkat tema Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage atau Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya. Wetland International mengajukan tema ini sebagai upaya menyoroti peran abadi pengetahuan tradisional dalam menjaga ekosistem lahan basah dan melestarikan identitas budaya.

Lahan basah merupakan jantung kesejahteraan manusia dan planet, sangat terkait dengan solusi untung hilangnya kanekaragaman hayati, aksi iklim, dan ketahanan air, serta menjaga keseimbangan yang rapuh antara manusia, alam dan masa depan bersama.

Hari Lahan Basah Sedunia adalah perayaan yang berkaitan dengan lingkungan yang bermula pada tahun 1971 ketika beberapa pemerhati lingkungan berkumpul untuk menegaskan kembali perlindungan dan kecintaan terhadap lahan basah. Lahan basah adalah ekosistem air yang mengandung kehidupan tumbuhan dan organisme lain yang membawa kesehatan ekologis yang melimpah tidak hanya bagi badan air tetapi juga lingkungan secara keseluruhan.

Baca Juga:
Biochar sebagai Solusi Pemulihan Tanah Pertanian Pascabencana Aceh–Sumatera

Departemen Sekretariat Lahan Basah Sedunia berasal dari Gland, Swiss. Adopsi konvensi Ramsar di kota Ramsar, Iran terjadi pada 2 Februari 1971 yang kemudian diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia. Peringatan ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran global akan peran penting lahan basah tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi planet ini. Para pelindung masyarakat dan pecinta lingkungan berkumpul pada hari ini untuk merayakan kecintaan mereka terhadap alam melalui perayaan, yang mengakui apa yang telah dilakukan lahan basah tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi semua jenis organisme di dunia.

Lahan basah merupakan salah satu ekosistem paling produktif di dunia, mulai dari lahan gambut dan hutan bakau hingga sungai dan dataran banjirnya. Mereka menyediakan layanan ekosistem yang tak tergantikan, seperti:

– Menyimpan sejumlah besar karbon, sehingga meningkatkan mitigasi perubahan iklim.
– Menyaring dan memurnikan air, menjaga pasokan air tawar .
– Melindungi masyarakat dari banjir ekstrem, kekeringan, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
– Melindungi keanekaragamanhayati yang luar biasa.
– Mendukung upaya untuk membalikkan hilangnya keanekaragaman alam.
– Lahan Basah adalah Pahlawan Super Iklim

Flora lahan basah sangat penting untuk adaptasi dan mitigasi. Hutan bakau dan padang lamun melindungi garis pantai dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut. Bakau juga merupakan pahlawan super dalam menangkap dan menyimpan karbon . Bahkan, diperkirakan bahwa bakau menyimpan empat kali lebih banyak karbon daripada hutan tropis lainnya. Lahan gambut hanya mencakup sekitar 3% dari daratan planet kita tetapi menyimpan sekitar dua kali lipat jumlah karbon daripada gabungan semua hutan di dunia .

Sebaliknya, hilangnya dan degradasi lahan basah memperburuk krisis iklim dengan melepaskan gas rumah kaca dan membuat ekosistem, serta masyarakat yang bergantung padanya, lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sangat penting untuk mengakui perlindungan dan restorasi lahan basah sebagai solusi berbasis alam yang efektif untuk adaptasi dan mitigasi iklim, serta memasukkannya ke dalam rencana iklim nasional.

Hampir seluruh air tawar di dunia diambil langsung dari lahan basah. Lahan basah memainkan peran penting dalam pemurnian air, penyimpanan, dan pengendalian banjir . Lahan gambut bertindak seperti spons menyerap kelebihan air pada saat hujan lebat, dan melepaskannya secara perlahan pada saat kekeringan. Padang lamun dan akar bakau menghilangkan kotoran dan garam dari air laut. Lahan basah sangat penting bagi siklus air, sehingga dunia tanpa lahan basah akan menjadi dunia tanpa air tawar . Dan sayangnya, krisis iklim juga merupakan krisis air. (EFS)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version