SEMARANG – Ini adalah buah dari keberanian mengambil keputusan. Termasuk keputusan menekuni pertanian yang belum banyak disentuh generasi milenial. Dia adalah Shofyan Adi Cahyono, lulusan Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) Uversitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ia berhasil membangun karier sebagai petani milenial yang diawali dari partisipasinya dalam usaha pertanian keluarga sejak 2016.
Shofyan memang tertarik dengan dunia pertanian. Selama kuliah, dia gali semua pengetahuan dari dosennya. Pengetahuan yang diperolehnya itu juga dibagikan kepada para petani di daerahnya agar dapat memberikan manfaat dan mendorong pengembangan usaha.
“Senang rasanya bisa berbagi dengan petani lainnya,” kata Shofyan peraih penghargaan Young Farmer Entrepreneur dari FPB UKSW. Dia juga mewakili Indonesia dalam ajang Organic Youth Forum di Taiwan, dan terpilih sebagai Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Baca Juga: Agar Tanaman Dalam Pot Sehat Sentosa, Ini Rahasianya
Sofyan berasal dari keluarga agraris. Ayahnya memulai usaha sayur sejak tahun 2007, namun masih terkendala oleh kondisi pasar. Karena itu, saat memasuki semester kedua kuliah, Sofyan mengikuti program kewirausahaan di kampusnya dengan mengangkat tema pemasaran sayuran organik.
Perannya sebagai pemilik usaha Sayur Organik Merbabu (SOM) serta Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menjadi sumber inspirasi.
Ia mengatakan mulai mengembangan SOM sejak 2014. Pada saat itu, Shofyan mulai aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi produk sayurannya. Menyadari besarnya peluang sayuran organik, ia membentuk Kelompok Tani Citra Muda yang secara serius menekuni pertanian organik dengan menerapkan teknologi pertanian tepat guna.
Dia menggunakan teknologi green house. Sedangkan untuk pupuk organik membuat sendiri, sehingga biayanya lebih murah. “Kalau untuk pascapanen sayur, kita gunakan plasma ozon, pengiriman juga pakai mobil berpendingin,” tuturnya.
Baca Juga: Pesantren Hidayatullah Bekasi Sukses Kembangkan Inovasi Padi Organik
Produk pertaniannya berkualitas. Selada, kol, tomat ceri, wortel, sawi sendok, kabocha, hingga kapri kini menghiasi rak-rak swalayan di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jabodetabek, hingga Banjarmasin dan Balikpapan. Harga produk pun bervariasi Rp10-60 ribu per kilogram.
Produk-produk SOM yang dikelola Shofyan telah dipasarkan ke berbagai wilayah, seperti Semarang, Solo, Magelang, Yogyakarta, Jabodetabek, dan Jawa Timur, bahkan menjangkau luar pulau hingga Kalimantan. Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan jaringan ritel di Purwokerto serta sejumlah perusahaan di Jakarta.
Shofyan mengatakan selain dukungan dari komunitas petani, pemerintah juga turut memberikan perhatian dan dukungan bagi para petani muda.
Dulu, sebelum berjualan online, Sofyan berjualan dengan berkeliling dari rumah ke rumah dan hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan. Namun setelah memanfaatkan media sosial, pendapatannya terus meningkat, bahkan kini omzet bulanannya mampu menembus ratusan juta rupiah.
Meski penjualan dilakukan secara online, Sofyan tetap mengantarkan langsung pesanan sayuran organik kepada pelanggan. Hanya saja, pelanggan diwajibkan melakukan pemesanan setidaknya satu hari sebelumnya.
Dalam menjalankan usaha pertanian organik, Sofyan menerapkan konsep pertanian keluarga. Ia berperan dalam pengelolaan branding produk, sementara ayahnya menangani aspek produksi, pengaturan pola tanam, pengendalian produktivitas, dan berperan sebagai penasihat kelompok tani.
Adapun, ibunya bertanggung jawab mengelola persediaan dan proses pascapanen, mulai dari menerima pesanan hingga menyiapkan sayuran sebelum didistribusikan kepada konsumen.
Di atas lahan seluas 10 hektar, Sayuran Organik Merbabu membudidayakan lebih dari 50 jenis sayuran organik seperti sayuran hijau, sayuran bunga, buah, umbi-umbian, sayuran salad, hingga herba yang telah mengantongi sertifikasi organik serta Halal dari MUI.
Sofyan menanam sayuran tanpa menggunakan pupuk kimia maupun pestisida sintetis. Pupuk dan insektisida diproduksi secara mandiri, sehingga kelompok ini dikenal sebagai kelompok tani mandiri. Meski demikian, fasilitas produksi tersebut tidak diperuntukkan untuk tujuan komersial.
Untuk memastikan ketahanan pangan, Sayuran Organik Merbabu menerapkan Strategi Organik 3.0, yang memadukan praktik pertanian modern dan tradisional sambil tetap berpegang pada kearifan lokal. (EFS)
