BOGOR – Praktik pertanian dengan memanfatkan lahan terbatas (urban farming) ternyata dapat  menurunkan suhu di perkotaan. Fakta ini terungkap dari penelitian pengembangan model urban farming multifungsi untuk daerah perkotaan oleh Fakultas Pertanian IPB University bersama Rikolto Indonesia dan Perhimpunan Indonesia Berseru.

Riset ini dilaksanakan di enam titik wilayah di wilayah Depok, Jawa Barat, periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Hasil riset menunjukkan bahwa urban farming yang berorientasi ekologis mempunyai tiga fungsi utama.

Pertama, fungsinya sebagai penyedia pangan sehat bagi masyarakat perkotaan, terutama sayuran segar yang bebas pestisida, dengan harga terjangkau.

Kedua, adalah perbaikan kualitas lingkungan, yang ditandai dengan penurunan diurnal temperature range (DTR) atau rentang temperatur harian. Imbasnya, kawasan sekitarnya menejadi lebih nyaman dihuni. Model urban farming ekologis berbasis heat island ini memungkinkan adanya pengelolaan sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik.

Ketiga, adalah fungsi ekonomi. Model urban farming ekologis berbasis heat island itu memungkinkan perputaran ekonomi dengan skala komunitas melalui aktivitas produksi dan penjualan produk lokal.

Baca Juga:
Mentan dan KASAD Panen Bawang Merah di Lahan Urban Farming

“Hasil penelitian selama dua tahun menunjukkan bahwa penerapan urban farming ekologis ini terbukti meningkatkan kesehatan tanah (soil health), ditunjukkan dengan tren peningkatan produktivitas beberapa sayuran utama dan penurunan tingkat serangan hama dan penyakit,” ujar Ketua tim peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono pada Januari 2026.

IPB University menerapkan berbagai teknologi dalam model urban farming ekologis berbasis heat island ini. Teknologi pertama adalah penataan lanskap kebun untuk pemanfaatan ruang yang lebih fungsional dan efisien.

Kedua, adalah penggunaan mikroba agen hayati untuk pengendalian hama dan penyakit hingga mencapai zero pesticides (pendekatan pertanian tanpa pemakaian pestisida kimia sintetis). Ketiga adalah pemilihan jenis dan varietas tanaman.

Kemudian, yang keempat, adalah ameliorasi tanah. Terakhir, atau yang kelima adalah penggunaan automatic weather station (AWS) untuk perencanaan budi daya tanaman.

Sementara itu, akar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Idung Risdiyanto mengatakan, urban farming ekologis berdampak pada penurunan DTR secara signifikan.

“Ini membuktikan bahwa keberadaan kebun komunitas berkontribusi langsung pada penurunan suhu udara di sekitarnya dan memperbaiki kualitas termal lingkungan, yang berdampak positif pada penurunan risiko kesehatan warga perkotaan,” kata Idung. (EFS)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version