BOGOR – Satu inovasi lahir kembali dari kampus IPB University. Kali ini inovasi alat angkut tandan buah segar (TBS) sawit. Pengembangan alat dan mesin pertanian (alsintan) ini dilakukan oleh Prof Desrial, Pakar Teknik Mesin Pertanian IPB University, yang berhasil menciptakan sejumlah alsintan yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi Indonesia.

Untuk di perkebunan sawit, ia merancang kendaraan transporter tandan buah segar (TBS) yang dinamai Fastrex. Alat ini disiapkan secara khusus untuk kondisi perkebunan sawit Indonesia yang memiliki kontur lahan dan karakter tanah beragam.

“Fastrex terbukti mampu meningkatkan efisiensi transportasi hasil panen, mengurangi beban kerja manual pekerja, serta meningkatkan produktivitas perkebunan, dengan kinerja 10-15 ton TBS per hari atau setara 5-7 orang dengan alat angkut angkong,” ujar Prof Desrial dalam keterangan resminya, Sabtu (07/2/2026).

Baca Juga:
Ini Angkong Listrik Sawit Ciptaan Peneliti ITS

Inovasi ini telah dikomersialkan yang menjadi menjadi bukti keberhasilan hilirisasi riset teknik mesin menjadi produk industri mesin pertanian nasional.

Selain itu, ia juga mengembangkan traktor pintar dan teknologi otomasi pertanian presisi berbasis sistem navigasi dan kendali otomatis. Teknologi ini memungkinkan lintasan kerja yang lebih presisi, efisiensi penggunaan input produksi, serta mengurangi ketergantungan pada operator terampil.

“Inovasi tersebut menjadi fondasi penting menuju penerapan pertanian digital dan pertanian cerdas di Indonesia,” ucapnya.

Dalam konteks global, ia menjelaskan bahwa China saat ini merupakan negara dengan produksi alsintan terbesar di dunia. Namun dari sisi penguasaan teknologi, Amerika Serikat masih menempati posisi terdepan dalam pengembangan alat dan mesin pertanian.

“Di kawasan Asia, India menjadi contoh menarik karena berhasil menjadi produsen alsintan terbesar ketiga di dunia, didorong oleh kebutuhan domestik yang besar dan skala produksi yang masif,” paparnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara agraris dengan wilayah yang luas, ia menilai Indonesia masih belum optimal dalam mengembangkan industri alsintan. Hingga kini, sebagian besar mesin pertanian masih bergantung pada impor, terutama pada komponen utama seperti mesin penggerak (engine).

Oleh sebab itu, sejumlah inovasi yang ia kembangkan tak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga penting untuk memperkuat industri alsintan nasional yang hingga kini masih bertumpu pada impor.

Meski demikian, ia menilai Indonesia sebenarnya tidak kalah dari sisi sumber daya dan kemampuan rekayasa.

“Tantangan utama terletak pada penguatan ekosistem industri, keberpihakan kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah agar pabrikan lokal mesin pertanian mampu berkembang dan bersaing,” ucapnya. (EFS)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version