Ini cerita nyata tentang Mas Agung. Petani padi di Kabupaten Banyuwangi. Dia bertani sejak 20 tahun yang lalu. Setiap hektar bisa panen 6 ton. Pupuknya sekitar 2 kwintal. Semuanya pupuk kimia alias sinetetis. Urea dan Phonska. Nah, 20 tahun kemudian, hasil panen tetap sama, 6 ton. Yang beda jumlah pupuknya. Bukan 2 kwintal lagi, Tapi, 4 kwintal atau 2 kali lipat lebih banyak. Biaya pemupukan, ya pasti lebih banyak. Dia bingung. Kalau begini terus, pupuk makin banyak, tapi panen tidak berubah.

Mas Agung masih beruntung. Tetangganya malah pakai 6 kwintal pupuk kimia untuk satu  hektar sawah. Hasil penen tak lebih bagus. Masih 6 ton juga. Meski biaya pupuk terus naik, petani ya mau-mau saja. Sepertinya tak ada pilihan. Kalau tak dipupuk kimia khawatir tidak panen. Tapi, mau dipupuk jumlahnya makin banyak dan biayanya makin mahal. Ini seperti simalakama. Karena tak ada pilhan lainnya, ya sudah dipupuk saja.

Kebutuhan pupuk makin banyak itu pasti ada sebabnya yakni, tanah terikat residu kimia. Dari mana asalnya residu? Ya dari pupuk yang dipakai setiap musim tanam. Ingat, tidak semua pupuk yang kita gunakan bisa diolah semua menjadi hara untuk diserap tanaman. Misalkan, Mas Agung tadi. Dari 2 kwintal pupuk anorganik, ada sisa-sisa pupuk yang tidak bisa diolah oleh tanah. Katakanlah jumlah 5 kg. Kalau setiap musim tanam ada 5 kg sisa-sisa pupuk sintetis, makin hari jumlahnya makin banyak.

Baca Juga:
Pupuk Hayati BIOTOP Dongkrak Hasil Panen Petani

Sisa-sisa pupuk kimia sintetis ini yang disebut residu yang mengikat tanah. Efeknya tanah tidak bisa maksimal menyerap pupuk untuk diolah jadi hara. Makin banyak residunya, semakin sedikit pupuk yang bisa dioleh dan diserap oleh tanaman. Makanya, pupuk yang dibutuhkan bertambah terus setiap tahun. Padahal yang benar-benar dibutuhkan tanaman seperti padi tidak pernah berubah. Cuma 2 kwintal per hektar.

Lah, kalau cuma 2 kwintal, ke mana sisanya yang 2 kwintal lagi? Ya itu tadi tidak bisa diserap dan diolah oleh tanah karena tanahnya sudah terikat residu yang dulu-dulu. Ini yang disebut oleh Prof. Iswandi Anas Chaniago, guru besar ilmu tanah IPB sebagai tanah yang sakit karena kita ugal-ugalan memakai pupuk kimia. Kata Prof. Iswandi, 72% tanah pertanian di Indonesia itu sakit. Makanya dipupuk 4 kwintal, yang diserap tanaman hanya 2 kwintal. Boros di duit.

Kalau paham kondisi seperti ini, Mas Agung pasti tidak bingung lagi. Jadi tahu kenapa pupuk nambah terus, panennya tidak berubah. Kalau kondisi ini dibiarkan, nanti 10 tahun lagi bisa-bisa butuh 1 ton pupuk untuk 1 hektar sawah. Kalau hasilnya panen naik 2 kali lipat sih tidak masalah. Faktanya kan hasil panen tidak pernah naik. Alias sama dari tahun ke tahun.

Nah, setelah paham kondisi ini, yang bikin Mas Agung bingung bagaimana caranya agar residu itu hilang dan tanahnya kembali seperti semula. Caranya sederhana. Prinsip dasarnya perbanyak bahan organik dan kompos di sawah. Bahan organik dari limbah peternakan dan limbah pertanian yang sudah dimatangkan. Lebih bagus lagi sudah difermentasi. Jerami itu jangan dibakar lagi. Kembalikan ke lahan sampai dia busuk.

Yang tidak kalah penting perbanyak microorganism di tanah. Caranya juga mudah tinggal tambahkan pupuk mikroba atau pupuk hayati cair. Pilih yang kandungannya paling sesuai dengan kebutuhan. Ada banyak pilihan pupuk berbasis mikroba ini di pasaran. Salah satunya Biotop yang bisa dilihat dokumentasinya di TikTok. Mikroba akan mempercepat netralisasi residu kimia dan pembusukan bahan organik. Dengan cara ini, mudah-mudahan tanah kita kembali seperti dulu lagi. (EFS)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version