Ini bukan hanya pengalaman kamu saja. Ada banyak orang mulai petani, penggemar tanaman, sampai pekebun yang merasa sudah memberikan segala macam pupuk, namun tanaman tidak tumbuh maksimal. Pupuk yang dimasukan tidak berdampak apa-apa. Tanaman yang begitu-begitu saja. Padahal tanah sudah dicangkul dan digemburkan.

Ternyata, ada satu yang kamu lupakan, yakni pH tanah. Senbelum mengolah lahan kamu nggak peduli dengan pH tanah. Yang penting, tanah sudah dicangkul, dibajak, dan diberi pupuk selesai urusan. Ternyata tidak. Menanam tanaman tanpa tahu kadar pH tanah itu seperti kamu membangun rumah, tapi nggak peduli dengan pondasi rumah.

Padahal pH tanah itu kunci utama bercocok tanam. Oh ya, pH itu artinya Power of Hydrogen atau Potential of Hydrogen yang jadi pintu utama penyerapan nutrisi. Bisa tidaknya pupuk diserap tanaman, ya tergantung sama pH. Kalau pH alias pintu utamanya tertutup, pupuk sehebat dan semahal apapun tidak ada gunanya.

Baca Juga:
Selain Suburkan Tanah, Biochar Tingkatkan Produksi Sawit

pH tanah itu punya skala 0–14. Kalau pH di bawah 7 artinya tanah itu asam. Kalau di atas 7 tanahnya basa. Nah, tanaman akan tumbuh maksimal kalau pH antara 5,5–7. Ini pH yang paling ideal. Dengan pH antara 5,5-7, semua nutrisi dari pupuk bisa terserap sempurna, terutama unsur N, P, dan K yang sangat dibutuhkan di saat masa vegetatif.

Kalau tanahnya asam alias asem-aseman kata orang Jawa, atau tanahnya basa alias alkali, yang nutrisi nggak bisa diserap tanaman. Mandek dan mampet di tanah. Bahkan, kalau tanah basa, bisa-bisa tanaman keracunan. Jadi, itu pentingnya mengenali pH tanah. Ini soal hidup dan matinya tanaman, bukan soal jarum dan angka di alat pengukur pH tanah.

Untuk mengetahui pH tanah caranya sederhana. Kamu bisa pakai alat pengukur pH yang banyak tersedia di toko mana saja. Tinggal tancapkan di tanah, tunggu sekitar 10 detik, nanti indikator akan menunjukkan berapa pH-nya. Harga alatnya murah, ada yang di bawah 100 ribu. Tapi, kalau mau yang bagus dan lengkap, harganya lebih dari itu. Ono rego ono rupo kata orang Jawa. Ada harga, ada kualitas.

Kapan harus tahu pH tanah? Ya, sebelum tanah ditanami, dong. Ibaratnya kamu mau suguhkan kopi buat tamu. Kan harus kamu coba dulu apa kopinya terlalu pahit atau terlalu manis. Kalau pahit, ya tambah gula. Terlalu manis, ya tambah air dan kopinya. Itu dilakukan sebelum kopi disuguhkan. Nggak lucu kan, ngetes kopinya di depan tamu.

Bagaimana kalau tanahnya asam atau pH rendah di bawah 5,5? Cukup tambahkan kapur dolomit. Taburkan di lahan kira-kira 2 minggu sebelum ditanami. Kalau tanahnya basa alias pH di atas 7? Cukup taburkan bubuk belerang. Kandungan sulfurnya akan menurunkan pH. Boleh juga tambahkan kompos dari kotoran hewan dan limbah pertanian yang membusuk. Biarkan sekira 2 minggu sampai pH di posisi netral atau 5,5 – 7.

Sekarang, jadi paham kan kenapa segala pupuk tidak berdampak pada tanaman. Ya, karena pintu utamanya belum dibuka. Seperti ungkapan cintamu dengan puisi, bunga, rayuan, atau bingkisan. Kalau hati dia belum terbuka ya cintamu bertepuk sebelah tangan. Yang perlu dibuka dulu hatinya agar cintamu diterima. Yang dibereskan dulu pH-nya, agar tanaman bisa menyerap nutrisi dari pupuk yang kamu berikan. (EFS)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version