JAKARTA — Industri kelapa sawit terus membuktikan perannya sebagai pilar utama perekonomian nasional sekaligus penggerak kemandirian pangan dan energi Indonesia. Keberadaan sawit tidak hanya berdiri sendiri sebagai tanaman komoditas utama, tetapi juga berpotensi besar diselaraskan dengan tanaman pendukung seperti jagung dan singkong melalui pola tumpangsari maupun pemanfaatan lahan berkelanjutan.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi tersebut.
“Kemandirian pangan dan energi bukanlah opsi, melainkan kebutuhan mendesak bangsa ini. Industri sawit memiliki ekosistem yang siap untuk mendukung hal tersebut, namun kuncinya ada pada penguatan kemitraan yang solid dan saling menguntungkan antara perusahaan kelapa sawit dengan masyarakat lokal maupun petani rakyat,” ujar Kacuk Sumarto dalam Forum Diskusi Terbatas Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan di IPB University, Bogor, Senin (31/8/2026).
Kata Kacuk, kedaulatan pangan dan energi sangat penting agar tidak bergantung pada impor pangan dan energi, sehingga jika terjadi krisis suatu negara tidak bisa diatur oleh negara lain. Krisis ini bisa bersifat global maupun regional, muncul sebagai akibat pertikaian politik yang kemudian menimbulkan perang. Konflik seperti perang dapat memutus rantai pasokan dunia dengan cepat. Begitu pula krisis perubahan iklim bisa mempengaruhi tingkat produksi pangan dan energi.
“Perkebunan kelapa sawit, mempunyai potensi sangat besar untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan energi tersebut. Dengan luasan yang diperkirakan mencapai 18 juta hektar, dan jika secara nasional konsisten dilakukan peremajaan kelapa sawit, akan tersedia setidaknya 1 juta sampai dengan 1,5 juta hektar lahan yang dapat diolah untuk budi daya tanaman pangan dan energi, maupun juga untuk sektor peternakan dan hortikultura,” katanya.
RSI mencatat kontribusi industri kelapa sawit terhadap perekonomian nasional sangat signifikan dan teruji. Antara lain, penyumbang devisa ekspor yang mencapai USD 35,87 miliar atau sekitar Rp 590 triliun pada tahun 2025. “Sektor sawit secara konsisten menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor terbesar bagi negara, yang menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan neraca perdagangan nasional,” katanya.
Kata Kacuk, sektor sawit juga menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang besar. Industri sawit mengakomodasi lebih dari 16 juta tenaga kerja, baik secara langsung di perkebunan dan pabrik maupun tidak langsung pada rantai pasok downstream. “Sawit juga mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pelosok dan daerah tertinggal, melahirkan pusat-pusat ekonomi baru di luar Pulau Jawa, serta meningkatkan taraf hidup jutaan keluarga petani,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Rumah Sawit Indonesia terus mendorong sinergi antara pelaku usaha dan masyarakat. RSI juga secara aktif mendukung langkah pemerintah dalam percepatan realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
“Percepatan PSR adalah langkah krusial untuk meningkatkan produktivitas lahan petani tanpa harus melakukan ekspansi lahan baru. Melalui PSR yang terintegrasi dengan kemitraan kuat dan optimalisasi tanaman pendukung, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi melalui biodiesel, tetapi juga mengamankan pasokan pangan nasional secara berkelanjutan,” kata Kacuk Sumarto. (EFS)
)
