PRODUKTIVITAS sawit menjadi topik hangat dalam lima tahun terakhir karena produksi yang stagnan dan bahkan menurun. Apalagi setelah pemerintah memutuskan program B50 (campuran minyak sawit dan solar) dimulai per 1 Juli 2026. Program B50 memang strategis untuk mencapai kedaulatan energi nasional. Namun, fakta bahwa produksi sawit nasional masih 50-52 juta ton/tahun menjadi tantangan besar. Program B50 menuntut produksi sawit 59 juta ton/tahun agar tercapai keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan ekspor sebagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan devisa negara.

Tangangan industri sawit semakin besar karena tuntutan aspek lingkungan juga tidak kalah tinggi. Pasar global menuntut minyak nabati yang dihasilkan dari tata kelola berkelanjutan. Pada saat bersama Indonesia juga mencanangkan Net Zero Emission 2060. Perkebunan sawit dengan luas 16,4 juta hektar punya peran strategis, bahkan krusial. Satu langkah sederhana sebenarnya telah dimulai untuk mendukung produktivitas sawit dan mengurangi emisi gas rumah kaca secara bersama dengan memanfaatkan biochar dari biomass sawit seperti cangkang, tandan kosong, pelepah, sampai batang sawit.

ASPEKPIR (Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR) dan Majalah SAWITKITA berkolaborasi merintis praktik pembuatan biochar dari tankos sawit pada Mei-Oktober 2025 di sejumlah daerah penghasil sawit. Kegiatan yang didukung penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini bukan hanya teori di dalam ruangan, namun juga praktik di lapangan. Petani dibekali pengetahuan dasar tentang biochar, praktik pembuatannya, aplikasi biochar di pohon percontohan hingga mengemasnya menjadi produk UKMK.

Biochar adalah bahan padat kaya karbon yang dihasilkan dari pirolisis biomass atau limbah organik padat. Biochar disebut juga arang hayati. Bentuknya sama dengan arang yang kita kenal selama ini. Warnanya hitam. Tetapi, bedanya sangat signifikan. Biochar mengandung 50% – 60% karbon, tergantung bahan baku dan proses pirolisanya. Arang biasa rata-rata 10% saja. Bentuk pori biochar lebih padat. Pori arang biasa renggang dan jarang. Kemampuan, fungsi dan manfaat keduanya di dalam tanah juga berbeda, terutama dalam menyerap dan menyimpan air, hara dan nutrisi tanaman.

Biochar bukan pupuk, namun berperan penting menyuburkan tanah. Kapasitas tukar kation (CEC) biochar sangat tinggi sehingga mampu menyerap dan menyimpan nutrisi penting seperti nitrogen dan fosfor. Dengan kemampuan ini, nutrisi dari pemupukan tidak akan larut terbawa air saat hujan atau menguap saat cuaca panas. Karena itu, pupuk yang digunakan petani lebih hemat karena tidak ada nutrisi yang terbuang. Selain menyerap dan menyimpan nutrisi tanaman, biochar juga menyimpan air untuk menjaga kelembaban tanah sehingga pertumbuhan akar lebih optimal.

 

Peningkatan Hasil Panen

Merujuk pengalaman penulis, tanah pertanian yang ditambahkan biochar cenderung lebih gembur dan berangsur lebih subur. Lahan bekas tambang galian C di Kabupaten Grobogan yang awalnya terdegradasi, kini berubah menjadi perkebunan alpukat. Begitu juga sawah salah satu pesantren di Kabupaten Bekasi. Dari semula hasil panen 2,9 ton karena kondisi tanah, secara bertahap meningkat menjadi 5,7 ton pada panen Oktober 2025. Perubahan signifikan juga terjadi pada tanaman contoh kelapa sawit dalam praktik biochar bersama ASPEKPIR yang didukung oleh BPDP.

Di Rumbio Jaya, Kampar, sawit berusia 8 bulan yang ditambahkan biochar tumbuh lebih baik dengan indikasi antara lain warna dan kesegaran daun dan pertumbuhan pelapah baru yang lebih cepat. Kondisi yang sama terjadi pada sawit berusia 6 bulan di Kecamatan Cintapuri Darussalam, Banjar, Kalimantan Selatan. Bahkan, benih sawit dalam polybag yang ditambah biochar pertumbuhannya jauh lebih baik dibandingkan yang tanpa biochar. Pada sawit usia di bawah lima tahun, perkembangan tanaman lebih mudah terlihat selain pada hasil panen untuk tanaman yang memasuki fase Tanaman Menghasilkan (TM).

Selain cocok untuk mendukung peremajaan sawit rakyat (replanting), biochar juga cocok untuk membantu memulihkan kesehatan sawit. Di Kabupaten Darmasraya, Sumatera Barat, ada sawit berusia 8 tahun yang berhenti berbuah. Dugaannya kekurangan nutrisi. Aplikasi biochar, kompos, dan pupuk hayati BIOTOP secara berkala membuat perubahan signifikan. Kelapa sawit ini kembali berbuah setelah enam bulan kemudian.

Sebagai pembenah tanah, biochar tidak boleh digunakan tunggal. Biochar harus diaktivasi lebih dahulu dengan kompos dan pupuk hayati atau dengan NPK. Berdasarkan pengalaman penulis, aktivasi dengan kompos dan pupuk hayati, dalam hal ini pupuk hayati Biotop dapat  memberikan manfaat lebih besar. Kompos yang dipilih berasal dari kotoran hewan kambing, sapi, atau ayam yang matang. Pupuk hayati Biotop dipilih karena kandungan mikroba dan enzimnya dinilai paling pas digunakan bersama biochar dan kompos. Aplikasi tiga komponen ini pada bermacam tanaman, beragam kondisi lahan dan cuaca, memberikan hasil terbaik. Bahkan, pada lahan dan cuaca ekstrem seperti di pegunungan Kendeng Lor, Grobogan.

Proses pembuatan biochar menggunakan tungku Kon-Tiki di Kabupaten Siak, Riau

Secara sederhana, tiga komponen ini bekerja sebagai berikut. Kompos adalah bahan mentah yang harus diolah menjadi hara dan nutrisi tanaman. Mikroba berperan sebagai juru masak, koki atau chef yang mengolah bahan mentah (kompos) menjadi makanan siap saji untuk tanaman dalam bentuk hara dan nutrisi. Kalau tidak ada juru masak, kompos butuh waktu lama untuk berubah menjadi makanan siap saji untuk tanaman. Biochar menjadi wadah makanan yang dimasak oleh juru masak (mikroba). Wadah ini yang membuat makanan (hara/nutrisi) tidak murah larut saat hujan dan tidak menguap ketika cuaca panas terik.

Selain menyimpan hara, biochar juga menjadi rumah ideal bagi mikroba. Biochar mampu menyediakan habitat dan substrat karbon stabil yang mendukung pertumbuhan mikroba. Selain itu, arang hayati ini meningkatkan diversitas mirkoba tanah, yang berperan penting dalam siklus hara dan nutrisi seperti dekomposisi bahan organik hingga fiksasi nitrogen. Aspek biologi tanah yang membaik ini tidak lepas dari populasi mikroba yang semakin banyak karena mendapatkan tempat ideal untuk berkembang. Selama ini, petani  lebih banyak berfokus pada aspek fisika dan kimia tanah. Aspek biologi kurang mendapatkan perhatian sehingga kesuburan tanah menurun.

 

Mereduksi Emisi Karbon

Penggunaan pupuk kimia tidak bisa dilepaskan dari model pertanian di Indonesia, termasuk pada kelapa sawit. Pupuk kimia sangat bermanfaat dan dibutuhkan oleh tanaman untuk meningkatkan hasil panen. Namun, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan memicu risko serius. Guru Besar IPB, Iswandi Anas Chaniago merilis temuan menarik pada tahun 2022 bahwa 702% tanah pertanian di Indonesia rusak atau sakit akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan alias ugal-ugalan. Indikasinya hasil panen stagnan dan bahkan turun, namun penggunaan pupuk kimia justru meningkat setiap tahun.

Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus selama puluhan tahun menyebabkan kadar organik dalam tanah menipis. Populasi mikroorganisme juga menurun. Kalau tak ingin tanah semakin rusak, kembalikan kadar organik dan populasi mikroba. Penggunaan pupuk kimia secara bijak disarankan karena kesuburan tanah dan hasil panen tidak semata ditentukan oleh pupuk, namun juga kondisi tanahnya. Biochar dapat menjadi jembatan meningkatkan kadar organik dan pupolasi mikroba. Mimpinya kita punya tanah seperti Terra Preta di Amazon yang kaya bahan bahan organik dan mikroorganisme karena biochar.

Biochar yang dihasilkan dari proses pirolisis bukan sekadar menyediakan wadah ideal untuk mikroba, namun juga mengubah karbon organik menjadi bentuk stabil yang tidak mudah terurai dan melepaskan CO2 kembali ke atmosfer. Karbon akan terperangkap di dalamnya ratusan hingga ribuan tahan sehingga mengurangi konsentrasi CO2 atmosfer. Biochar dapat mengurangi emisi gas rumah kaca lainnya seperti metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) yang memiliki potensi pemanasan global lebih tinggi dibandingkan CO2.

Sudah banyak penelitian dan contoh bagaimana biochar membantu mengurangi emisi gas rumah kaca karena kemampuannya dalam menyimpan karbon dalam bentuk yang stabil dan mengurangi emisi yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian. Biochar dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara menyimpan karbon dalam tanah. Langkah sederhana yang dirintis oleh ASPEKPIR bersama Majalah SAWITKITA dengan dukungan BPDP adalah ikhtiar dalam meningkatkan produksi sawit yang berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian  Net Zero Emission 2026. Langkah sederhana ini layak ditimbang sebagai cara meningkatkan produksi sawit sekaligus merespon tantangan perubahan iklim global.

Arif Firmansyah
(Praktisi Biochar dan Pengembang Biotop)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version